WK-Brand Logo
Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Syair Gulung

penyair muda rantau panjang, warta kayong kalbar

Burhami, Pelajara Kelas X SMAN 3 Simpang Hilir. Penyair muda yang berbakat. Diusianya yang masih realtif muda, dia sudah mampu menghasilkan karya seni, Syair Gulung. Berikut kami tampilkan sajak syairnya, bait demi bait kepada pembaca. Semoga bermanfaat. Atas kekurangan, mohon kritik dan saran.


Assalamu’alaikum warahmatullah


Ijinkan saye menulis risalah


Dengan awal membace bismillah


Syair gulung Melayu tebukalah sudah



Alhamdulillah mule dikate


Memuji Allah Tuhan semeste


Empat puji ade beserte


Semue berpulang pade Allah ta’ale



Jike syair hendak didendangkan


Tentulah hendak menyampaikan pesan


Bentuknye begulong di bukak dengan tangan


Mempunyai logat yang same akhiran



Inilah namenye syair


Bukannye mantra bukannye sihir


Tidaklah pulak bermaksud menyinder


Sekedar menghibur bagi yang hader



Sebagai tande Melayu beradat


Jadilah orang Melayu yang ta’at


Selalu tegak memegang syari’at


Dimane berade selalu memberi manfaat



Melayu Kayong sangatlah kental


Sehat fisik baeklah mental


Tak patut juga jike berbual


Orangnye pon tidaklah suke mencarek tegal



Tepung tawar do’e selamat


Itulah tradisi yang dipegang kuat


Syair gulong pon dikenal masyarakat


Sebagai tande mengenal budaye setempat



Pade tanggal satu Muharram


Merupekan hari besar Islam


Nabi Muhammad Aalallahu’alaihi Wassalam


Merupekan pejuang Islam



Namun ape yang terjadi


Banyak yang dialami kaum lelaki


Diundang mengaji takot sekali


Purak-purak kesaketan gigi



Tapi sekarang ape kejadian


Penghulu memanggel penganten perempuan


Untok dudok dan ikot menyaksikan


Apekah ini yang nabi ajarkan?



Begitu dekat kite dengan kiamat


Anak mude lelaki pakai selua ketat


Ade gak yang gile judi dan percaye khurafat


Make hidupnye pulak akan melarat



Yang perempuan pakai mini sekerat


Suke pulak pakai baju ketat


Suke pulak menunjokan pusat


Hinge tak peduli batas aurat



Akhirnye ape yang dibuat


Perot kempes menjadi bulat


Bile udah perot kempes menjadi bulat


Tunggulah lahir anak-anak menyalah sifat



Bayi di buang di sembarang tempat


Iblis pon mulai melompot-lompat


Habes manusie udah tesesat


Inilah fenomena dari masyarakat



Kate dan syair telah diucapkan


Kalimat tak utoh serte berantakan


Kritik dan saran saye harapkan


Kecik telapak tangan nyiruk saye tadahkan



Sekian dulok kami bermadah


Mohon maaf kate yang salah


Wabillahitaufik walhidayah


Wassalamu’alaikum warahmatullah



Rantau Panjang, 16 Januari 2014


BURHAMI

Minggu, 19 Januari 2014

Penyair Muda yang Berbakat

penyair muda rantau panjang, warta kayong kalbar

SIMPANG HILIR - Adalah Burhami (16), siswa kelas 1 SMAN 3 Simpang Hilir. Dalam acara pembukaan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriah, Minggu (19/1/2014), yang diselenggarakan Remaja Masjid Babul Hasanah Rantau Panjang. Burhami tampil memukau dengan Syair Gulungnya. Semua mata dan telingga tertuju kepadanya. Tawa dan tepuk tangan pun memeriahkan penampilannya.


Burhami merupakan generasi yang berbakat. Diusianya yang masih terbilang belia, dia sudah mampu berkarya. Pasalnya, menjadi penyair itu tidak mudah. Butuh bakat dan kemauan yang sungguh-sungguh. Namun Burhami telah membuktikan, bahwa dia memilki bakat dan kemampuan dalam seni klasik ini. Terbukti, syair gulung yang dibacakannya adalah buah dari karyanya sendiri.


Ditengah krisis kepercayaan dan stikma buruk anak muda sekarang terhadap seni budayanya sendiri, Burhami tampil penuh percaya diri. Baginya, seni dan budaya itu harus dilestarikan, agar ia tidak punah ditelan jaman. Sebab, budaya memiliki nilai dan kearifan lokal. Alhasil, syair yang terdiri dari 16 bait ini, mendapat apresiasi dari hadirin yang hadir dalam acara pembukaan tersebut.


Ada hal yang menarik dan unik dari syair gulung ini. Selain membaca bait demi baitnya dengan membuka gulungan kertas memanjang berisi teks syair,  syair juga memiliki pesan yang tersirat da tersurat. Pesan-pesan yang termuat didalamnya, yaitu syi’ar Islam, petuah, nasehat, ajakan dan sindiran. Syair gulung pun dibacakan dengan irama atau lagu. Uniknya lagi, syair gulung dikemas dengan bahasa jenaka, yang membuat orang tertarik dan tertawa ketika mendengarnya.


Dewasa ini tak banyak lagi penyair Melayu yang bermunculan. Jika ada pun, kebanyakan dari kalangan umur di atas 50 tahunan. Itu pun dapat dihitung dengan jari. Namun, anak muda yang satu ini mampu merubah pendapat bahwa, syair gulung itu hanya mampu dilakukan orang yang berumur saja.


Dulu, saat acara perkawinan, peringatan bersar Islam, perayaan hari besar nasional, menyambut tamu agung dan lain-lain, pembacaan syair gulung seperti menjadi keharusan. Orang Melayu di suatu kampung akan dianggap tak memilki budaya, jika tidak mampu menyuguhkan syair gulung. Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran nilai budaya. Syair gulung terkena dampak atau biasnya.


Agar warisan budaya ini tetap lestari, perlu dukungan semua pihak. Terutama pencinta seni budaya Melayu dan orang Melayu itu sendiri. Misalnya, dengan menampilkan syair gulung pada momen perkawian, hari besar Islam, hari besar nasional dan lain-lain. Serta menjadikan syair gulung sebagai salam penghormatan dalam menyambut tamu agung. Kemudian menyelenggarakan even khusus misalnya, untuk menyaring bakat dan memotivasi anak muda. Sehingga mereka mencintai seni budayanya sendiri, budaya yang menjadi warisan bangsa. Seperti yang telah dilakukan Burhami● (Has)

Jumat, 17 Januari 2014

Khawatir Angin, Warga Gotong-royong Memangkas Pohon

gotong royong 2, warta kayong kalbar

SUKADANA – Khawatir angin, warga Dusun Tanjung Belimbing, Desa Pangkalan Buton Sukadana, gotong-royong memangkas pohon pelindung di pinggir jalan provinsi, Jum’at pagi (17/1/2014). Tubangnya beberapa pohon akibat tiupan angin/puting beliung, membuat sejumlah warga khawatir dampak negatifnya. Sebab, kondisi cuaca yang sulit diprediksi saat ini, angin ekstrim bisa datang kapan saja, tanpa terduga.

“Kami khawatir saja jika angin kencang datang tiba-tiba, pohon ini tumbang, kerena posisinya sangat dekat dengan masjid dan rumah warga,” ungkap Amat, warga setempat.

Kendati berjibaku dengan kerengge (semut api, red), tak menyurutkan semangat warga memangkas pohon tersebut. Alhasil, pohon yang berdiameter lebih dari 50 cm tersebut, selesai dipangkas sebelum fardu Jum’at.

Gotong Royong, Warta Kayong Kalbar

Apa yang dilakukan warga Dusun Tanjung Belimbing tersebut patut diapresiasi. Sebab, selain mengantisipasi bahaya angin/putting beliung yang bisa datang kapan saja, juga menghidupkan semangat atau budaya gotong-royong, yang saat ini keberadaannya telah tergerus oleh moderenisasi● (Has)