WK-Brand Logo
Tampilkan postingan dengan label wk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wk. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

Belajar Hidup Tegar dari Penjual Sapu Lidi

bu imah penjual sapu lidi,l  di   melano

Sahabat Ujang Tampoi yang baik.

Di tengah matahari terik tegak di atas kepala, dalam perjalanan Ujang ketika melintasi jembatan Teluk Melano melihat seorang ibu-ibu berpenampilan lusuh sedang duduk di bibir jembatan menghadap ke laut sambil di kiri dan kanannya bertumpuk sapu lidi.

Pada mulanya Ujang lewat saja tanpa menghiraukan sosok ibu yang kumal tersebut. Terpikir dalam benak Ujang bahwa ibu itu mungkin hanya gelandangan atau orang gila saja. Namun tiba-tiba terlintas penasaran, langsung saja Ujang belokkan motor dan berniat kenalan dengan sosok Ibu yang misterius tersebut.

Pelan-pelan Ujang mendekati ibu itu dengan penuh tanda tanya. Sengatan terik panas matahari yang mendera, ia hanya berdiam diri memandangi laut tanpa peduli siapapun yang memerhatikannya.

Sekilas memang tampak ibu itu seperti orang tak waras. Rupanya bongkokkan sapu ada di sisinya. Begitu Ujang menyapa, ternyata ibu itu mau menanggapi seperti layaknya orang biasa. Dari tatapan matanya Ujang merasakan keteduhan dan ketenangan.

Ibu itu menggambarkan bagaimana ia hidup tanpa ambisi. Ia hidup sangat sederhana. Hidup yang nyata tanpa kepalsuan dan kemunafikan.

Ibu itu bernama ibu Imah. Ia tinggal di rumah sangat sederhana bersama seorang nenek bernama Nek Siah di dekat jalan tikungan Penjalaan kecamatan Simpang Hilir. Suaminya sudah lama berpisah dengannya. Empat orang anaknya meninggal semua, sewaktu mereka masih di usia balita dikarenakan penyakit yang tak tersentuh medis.

Tak lama setelah meninggal anak terakhir, sang suami meninggalkannya begitu saja. Semenjak itu, ia mulai menjalani kehidupan yang keras bersama sang nenek renta tersebut.

Semula Ujang berpikir kalau ibu Imah itu adalah orang gila. Ternyata salah. Ibu Imah waras sewaras-warasnya orang. Ia lancar berkomunikasi dengan Ujang selayaknya orang biasa. Mungkin saja perilaku Bu Imah dinilai aneh bagi kebanyakan orang.

Ada yang bilang jika ibu Imah itu kurang se-Ons (sebutan untuk orang kurang waras). Ada yang bilang juga kalau ibu Imah itu orang bodo-bodo (sama saja sebutan orang kurang waras). Dan masih banyak lagi sebutan yang merendahkannya. Namun Bu Imah tak pernah peduli dengan apapun penilaian orang padanya. Bu Imah tetap saja konsisten dengan usahanya sebagai penjual sapu lidi dengan caranya yang di anggap aneh.

Bu Imah sering mangkal di jembatan Teluk Melano untuk menjual sapu lidi. Ia mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00 petang hari. Dari rentang waktu selama itu, tak sedikitpun ia bergeming dari tempat duduknya.

Ia tahan rasa lapar dan haus terkadang orang yang merasa kasihan menawarkannya minum atau sepotong makanan. Dalam kehidupannya yang keras tersebut, ia tak pernah berkeluh kesah. Ia tetap terus lurus menjalani hidupnya walau dalam berbagai keterbatasan.

Ia punya alasan tersendiri untuk tidak berjualan di pasar sebagai pusat perbelanjaan. Nalurinya mengarahkannya ke jembatan karena ia melihat di pasar sudah terlalu banyak pesaing, maka ia perlu tempat yang sepi pesaing dan ramai orang melihat. Jembatan panjang Melano salah satu solusi yang menjawab semua, itu pikirnya.

Menurut pengakuan Pak Madi, salah seorang penjaga sekolah yang bekerja di MTsN Simpang Hilir, ia suatu saat tidak menyangka dengan sosok Bu Imah yang di anggap sebagian orang kurang se on tersebut.

Pada suatu ketika Bu Imah datang ke sekolah mewakili salah seorang siswa di MTsN dalam rangka mengurus bea siswa. Setelah ditelusuri, rupanya Bu Imah adalah keluarga dari siswi tersebut. Pak Madi tidak menyangka jika ternyata Bu Imah waras, sebagaimana layaknya orang biasa walaupun penampilannya di luar kebiasaan.

Semenjak itulah Pak Madi sadar bahwa Bu Imah bukan orang sembarangan. Ia adalah potret diri bagaimana manusia mengukur dan introspeksi diri.

Kini kita belajar dari ketegaran Bu Imah dalam menjalani hidup. Ia tegar di kala empat buah hatinya dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga tetap tabah manakala orang-orang terdekat menjauhi dirinya.

Di rumahnya yang sangat sederhana, Bu Imah dan Nek Siah hanya berpikir bagaimana bisa hidup untuk mendapatkan sesuap nasi dan dapat dengan damai menjalani masa depan. Tanpa mengeluhkan takdir yang di berikan Tuhan Kepadanya.

Ia juga tak pernah meminta belas kasihan siapapun. Ia paham dengan kodrat hidupnya. Ia sadar akan siapa dirinya. Ia adalah sedikit potret yang diciptakan Tuhan untuk menjadi ibroh (pelajaran) bagi umat manusia. Dan di sisi lain, kebahagiaan maupun kesusahan hakikatnya adalah cobaan dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Susah maupun senang merupakan sebuah rasa yang dirasakan. Kita melihat Bu Imah begitu sulit dan keras menjalani hidup. Namun di sisi lain Bu Imah sangat menikmati kehidupannya. Ia menerima takdir dengan ikhlas dan menjalaninya dengan penuh kebahagiaan.

Ujang ingat sebuah ungkapan bahwa jika kita ingin mensyukuri nikmat maka lihatlah ke bawah.

Ungkapan bijak itu mengajak kita untuk menghitung seberapa banyak nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Sadarkah kita bahwa selama ini ternyata sebagian besar dari kita banyak mengabaikan itu?

Semoga potret Bu Imah bisa menjadi bahan inspirasi bagi kita untuk menapaki kehidupan masa depan yang lebih baik.

MIFTAHUL HUDA

Senin, 13 Januari 2014

Ribut Dulu, Baru Setuju

Ribut Dulu, Baru Setuju


TNI-Wan Warta Kayong Kalbar


Oleh: Redaksi WK


Menarik. Tema yang mesti kita bahas dalam tulisan ini. Jangan ngeledek dulu! Sabar! Ini ada kaitannya lho dengan kehidupan sosial kita. Yang pasti ini sering banget terjadi disekitar kita, bahkan seperti membudaya aja tu. Mau tahu apa tu sob? Simak aja petikannya. Baca aja! Insya Allah bermanfaat.

“Ribut Dulu, Baru Setuju atau ada solusinya.” Yah. Inilah potret negeri kita. Selalu saja kebijakan itu tumbuh setelah ada peristiwa, bahkan kadang harus meneteskan darah atau meregang nyawa. Namun banyak juga tu sob peristiwa-peristiwa yang terjadi di negeri ini akibat ditunggangi oleh kepetingan politik tertentu, misalnya tidak puas karena kalah dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), kemudian ajak masanya ribut bakar ban, blokade jalan, buat kerusuhan, buat macet jalan, buat hidup tidak aman de-el-el. Ironisnya sob, itu mereka lakukan atas nama Demokrasi lho…..?!

Baik, sejenak kita tinggalkan cerita tentang Demokrasi dan Pemilu/Pemilukada, kita fokus pada tema aja dulu. Tapi tetap aja tu sob ada kaitannya dengan politik. He’eee. . . . Yupzz. Politik emang seperti magnet dalam kehidupan ini, tempatnya ulur-tarik kepentingan dan kepentingan orang-orang tertentu.

Sob pasti pernah dengar cerita tetang GAM (Gerakan Aceh Merdeka), OPM (Organisasi Papua Merdeka) atau Republik Maluku Selatan (RMS). Nah, sob pasti tahukan akar permasalahannya? Yupzz. Salah satu faktor yang mendasarinya yaitu kesenjangan dan keadilan sosial, serta kepentingan politik oknum-oknum tertentu. Seperti Aceh misalnya. GAM itu tumbuh akibat, Pertama kepentingan politik mereka tidak terakomodir pusat, misal peneraban Undang-Undang Syari’ah tidak disetujui pusat; Kedua kesenjangan kehidupan sosial, pada hal daerah mereka Daerah Istimewa (D.I.), tapi masyarakatnya sengsara, kontribusi mereka besar untuk negera ini, tapi apa perhatian negara untuk mereka? Itu menurut versi mereka sih, dan lain-lain. Inilah yang mendasari mereka ingin lepas dari NKRI.

Bayangkan saja sob, lebih kurang 30 tahun operasi militer, dengan judul Daerah Operasi Militer (DOM) dilaksanakan di Aceh, demi memberantas Tentara dan antek-antek GAM. Berapa banyak manusia yang jadi korban disana, baik korban fisik maupun psikis demi perang melawan separatisme? Bagi negara tindakan ini adalah tindakan yang pantas buat separatis. Bagi sebagian rakyat Aceh pun, apa yang mereka lakukan juga merupakan hal yang pantas atas hak mereka sebagai warga Negara. Kerena mereka merasa hak mereka sebagai warga negara terabaikan. Bernarkah demikian? Entahlah. Yang pasti kita wajib bersyukur karena masalah Aceh sudah tuntas.

Apa benang merah jika dikaitkan dengan tema dan kasus-kasus di atas? Ialah kurangnya tidakan antisipasi/tindakan prepentif dari semua peristiwa yang terjadi. Selalu saja dimulai dengan sebuah konfliks baru muncul solusi. Sudah banyak menelan korban, baru ada pesetujuan tuntutan politik mereka – rakyat Aceh.

Demikian juga dengan Irian Jaya (Papua) dan Maluku. Setelah konfliks berkepanjangan dan merengut korban, baru muncul keputusan Otonomi Khusus bagi Papua, dan mekarnya Papua menjadi tiga provins. Begitupun dengan Maluku. Kenapa harus ada korban dulu baru ada solusi? Apa ini sudah ketentuan alam sebagai simbol perjuangan kelompok tertentu?

Contoh sederhana dari peristiwa yang hampir sama yang terjadi di kampung atau pemerintahan sekelas desa. Misalnya kasus Beras Miskin (Raskin), Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan berbagai jenis bantuan sosial lainnya yang langsung kepada masyarakat. Setelah ribut dan adanya korban baru muncul kebijakan baru, misalnya data penerima/yang berhak 100 orang kemudian dibagi rata kepada 500 orang yang katanya berhak juga. Seharusnya yang berhak dapat 20 kg/orang/bulan jadi sisa 4 kg/orang/bulan, karena dibagi rata ke 500 orang. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabnya bisa juga pendataan yang tidak pas/valid peruntukannya kepada orang yang berhak, tidak ada perbaikan data yang bermasalah dari BPS serta kuota program yang terbatas.

Seperti kasus pemindahan penerima manfaat Program Listrik Murah pada Nopember 2013 yang lalu. Program dari Kemensos tersebut hampir-hampir saja memantik bara konflik antar Kepala Desa, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan warganya. Pasalnya, Kades memindahkan Program Listrik Murah tersebut, dari data yang berhak menerima kepada orang yang pantas menerimanya. Atau sebaliknya, dari orang yang pantas menerima kepada orang yang berhak menerima. Sebab kouta program terbatas. Sementara yang berhak menerima membludak. Inilah potret kemiskinan negeri ini.

Usulan penerima Program Lsitrik Murah tersebut tidak akan menjadi masalah jika ada koordinasi dan intergrasi antara PSM kecamatan/desa dengan Kades yang ada. Yang terjadi, mereka mengusulkan sendiri-sendiri, dilatari kepentingan yang berbeda. Diduga dalam menetapkan usulan penerima manfaat, PSM dilatari kepentingan politisnya, sebab oknum PSM tersebut merupakan Caleg 2014, Dapil 4 KKU, dari Partai tertentu, “Tuding Kades ke PSM.”

Sementara Kades dilatari kepentingan pencitraan diri, sebab dari sekian orang Kades yang mengalihkan program, merupakan Kades yang baru dilantik bulan September 2013 yang lalu. Karena usulannya tak terakomodir, terpaksa mengaku usulan orang lain. Ada juga diantara kades tersebut, penggalihan program karena dilatari kepentingan politik untuk mendukung orang terdekatnya, yang ikut dalam bursa Caleg 2014, “Tuding PSM dan warga.”

Alhasil, dari sekian jumlah penerima manfaat, lebih dari separuh penerimanya dipindahkantangankan ke orang lain diluar daftar yang berhak menerima, walaupun pemindahan tersebut kepada orang yang layak menerima. Masing-masing, antara PSM dan Kades saling tuding dan mengklim bahwa usulan yang keluar adalah usulan masing-masing, dengan sumber data yang sama. Endingnya, memancing kemarahan warga yang merasa namanya terdaftar sebagai penerima, tetapi instalasi listriknya dipasang di tempat orang lain yang tidak terdaftar. Syukurnya, masalah ini dapat diredam, dengan difasilitasi BPD setempat, sehingga tidak menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.

Secara umum terjadinya berbagai permasalahan di atas disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Lambannya tindakan pengamanan/akomodasi dari pemangku kepentingan. Andaikan kondisi ini segera direspon, insya Allah konfliks tidak akan terjadi, jika harus terjadi tentu dapat diminimalisir dampaknya; 2. Lemahnya koordinasi antara komponen-kompenen yang ada. Yang cenderung tampil ialah ego pribadi atau kelompok; 3. Terjadinya kesejangan sosial dan tidak meratanya pembangunan antar daerah satu dengan daerah yang lain, sehingga menimbulkan kecemburuan social dan kemiskinan; 4. Buruknya sistem dan birokrasi yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun, yang menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan terhadap pemimpin. Kebijakan yang diputusan oleh pemangku kepentingan terkesan berpihak pada kelompok atau daerah tertentu saja (ego sektoral); 5. Lemahnya penegakkan hukum disegala bidang, yang lemah ditindas dan yang kuat semakin bebas bertindak; 6. Miskinnya teladan. Menganggap jabatan adalah sebuah kesempatan untuk meraup keuntungan pribadi. Lunturnya nilai-nilai moral dan nilai-nilai relegius pada pribadi bangsa ini, akibat pola dan kebutuhan hidup yang tidak bisa dibendung; 7. Karena keputusan yang rentan dipolitisir atau ditunggangi kepentingan terselubung oleh oknum atau kelompok tertentu, dan lain-lain.

Menyikapi permasalah yang ada, butuh kerjasama dari segenap pihak, terutama para pengambil kebijakan. Perlu kajian yang mendalam sebelum memutuskan sesuatu. Apa lagi kebijakan. Sebenar apapun, dan setepat apapun, yang namanya kebijakan tetap salah – melanggar aturan. Kebijakan hanya akan benar di mata sebagian manusia, namun salah di mata hukum. Kalau hukum bicara keputusan, dan hati bicara kebijakan. Mana yang benar? Jawabannya, RELATIF.

Pemimpin yang bijak tentu harapan kita semua. Namun belum tentu kebijakannya akan mampu meyelamatkan masyarakat atau bahkan dirinya. Bahkan banyak pemimpin, karena kebijakannya, tersandung kasus hukum.

Kebijakan akan dianggap bijak/bijaksana ketika itu diputuskan dengan hati, dan hukum sebagai kerangka berpikirnya. Seseorang yang siap menjadi seorang pemimpin, sepatutnya pula ia siap dengan segala persyaratan seorang pemimpin, resiko perjuangan, resiko kegagalan atau fitnah.

Nah sob. Jadi pemimpin itu susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Tapi kita tak perlu takut untuk menjadi pemimpin. Bagaimana pun kita adalah pemimpin, khalifah di bumi ini. Paling minim pemimpin keluarga. Sekecil apapun, jabatan dan pekerjaan tetap memiliki resiko, sukses atau gagal, selamat atau cidera.

Pepatah kuno yang sering kita dengar, mengatakan “Berpikir dua kali sebelum bicara satu kali.” Atau yang lebih tepat lagi, “Sediakan payung sebelum hujan.” Inilah nasehat orang tua-tua kita terdahulu, mengantisipasi sesuatu sebelum terjadi. Dengan kata lain, inilah tindakan bijaksana yang perlu diambil sebelum memutuskan atau sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan, sehingga efek buruknya dapat diminimalisir. Sedapat mungkin kita cegah/hindari hal-hal yang dapat memantik amarah khalayak, tentu dengan cara-cara yang adil, benar, bijak dan tepat.