WK-Brand Logo
Tampilkan postingan dengan label lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lokal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

“Seni Budaya Lokal Adalah Bagian Dari Semangat Suatu Bangsa”


seni budaya lokal
Ayo yang cinta produk seni budaya lokal silahkan angkat tangan !.... owwwww. … mengesankan … saya tak tau berapa orang yang tunjuk tangan dengan hati yang tulus betul betul cinta dengan seni budaya Lokal kita, semoga saja anggapan saya salah. Kurangnya minat dari para generasi muda membuat pamor seni budaya lokal makin ketinggalan sehingga ada anggapan bahwa yang hobi dengan hal hal jadul itu ya hanya orang tua tua, kalau anak muda Ya gauuul meeennn,…hehehehhehe… kira kira gimana benar atau tidak anggapan itu ?.. silahkan di nilai sendiri …, ya kita maklum generasi muda saat ini terutama yang sukanya ikut ikutan alias tak punya Prinsip/tak berkarakter/tak punya basic Iman, mereka bisanya ngekor san dan ngekor sini.

Liat teman temannya gaul metal dia juga ikut metal, liat temanya gaul ngoplo dia juga ikut koplo, liat temannya gaul ngerock dia ikut ikutan rock, liat temannya gaul Ngelem dia juga ikut ikutan lem, katanya siiih…. Biar kereeen atau biar di segenai,,,, atau Biar tak ketinggalan Zaman,,… atau biar gaul dan tetek bengek yang lain yg membuat ia seolah olah di anggap serba wah oleh teman teman dan lngkungannya. Nah di tambah lagi ini sekarang malah ada Figur pejabat yang baru baru ini malah ikut ikutan bermetal ria di Djakarta, bukannya tidak boleh, sebenarnya boleh boleh saja sih, tapi liat kapasitas dan kabilitas siapa kita dan di mana posisi kita, kita pnya hak yang sama untuk menentukan arah hidup kita, mau cebur parit mau gantung diri mau apa kek silahkana saja, asalkan saja itu untk pribadi kita dan tidak berefek luas secara moral maupun sosial,…ingat secara Pribadi yaaaa, kalau mau minum/ngelem ya jangan ngajak temannya/di jembatan, pergi aja di dalam hutan sendirian bawa obat nyamuk terus ngelem atau mabuk sampai nyosorpun siahkan, itu insyaala efeknya Cuma pribadi saja, tapai lain cerita jika sudah ngumpul ngumpul kemudian bersama sama ngelem atau mabuk, tentu bias sosial akan lebih luas.

jamhari ssb

Ya sudah kita maklumi saja sama anak anak muda sekarang yang begituan, itu mungkin bagian dari proses pencarian jati diri mereka, hanya kebetulan saja lewat proses semacam itu, kita do`akan semoga Jati dirinya cepat ketemu dan kalau udah ketemu insyaallah cepat insyaf. Amieen, KEMBALI kepada pembahasan Awal seni budaya Lokal, jujur saja ayo coba tanyakan dengan diri kita sendiri stiap event baik ceremonial perkawinan atau apapun bagaimanakah menurt kawan kawan kawan tentang ciri khas budaya lokal kita ?... ….sialhkan di jawab di wall komen nanti juga boleh. Kalau nurut pengamatan, selama ada event yg contohnya sering kita jumpai yakni walimahan, berapa persenkah Budaya lkal kita tampil ?.

Seperti budaya lokal melayu kita seperti Syair Gulung, pencak Silat, Rebana, Jpin/ rodad?.. jawabannya saya mulai dari 70 % saja, atau 50 % atau 30 % atau 10 % ? atau yang lainnya ?... silahkan bantu jawab di wall cment juga.. hehehhe, terus kemudian coba survey pada pengguna HP, lihat dan perhatikan kebiasaanya membuka file misal musik kesukaanya, apakh yang ia buka. Dan kira kira lagu lagu senandung melayu/ciri khas budaya lokal melayu berapa persen kah yang ia putar ?..., bantu juga tolong di jawab…..!, hehehhehe .. terus yang terakhir lihat dan perhatikan sekitar kita, berapa Persen kah grup seni budaya lokal yang tumbuh berkembang ?.... coba bandingkan dengan Grup Band atau Grup Metal. Kira kira mana lebih laku dan ngetren ?... coba jawab dengan jujur, dan setelah semua terjawab mari kita renungkan sama sama ada apa sebenarnya dengan seni budaya lokal kita, inikah yang di namakan krisis seni budaya ?. inikah yang di namakan pergeseran seni budaya ?...terus siapakah yang bertanggung jawab atas ini semua?.. pemerintah/anak muda/seniman/dll, ?.... ahhh ini salah kita semua, karena kita terlena oleh arus moderenisasi yang tidak kita sadari menyeret nyeret kita jauh dari adat budaya kita yang sesungguhnya.
Kemudian pertanyaan Besarnya adalah, SEBERAPA PENTINGKAH SENI BUDAYA LOKAL ?... & APA EFEKNYA BAGI KEHIDUPAN KITA SEHARI HARI ?..., ini pertanyaan besar yang jawabannya sangat panjang yang tidak bisa saya uraikan di sini, karena tangan saya udah capek nulis, hehheheh. Baik saya akan kupas sedikit efek dari pergeseran seni budaya lokal tersebut akan berakibat juga pada pergeseran pola hidup dan kehidupan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat kita. Misal yang tidak biasa menjadi biasa, yang tabu menjadi tidak tabu, yang malu menjadi tidak malu, yang di anggap aib di anggap tidak aib, dsbg… contoh nyata silahkan di amati saja apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita, saya kaina pembaca lebih peka dan paham apa yang penulis maksudkan.
Maka untuk itu yang terakhir kalinya kami mengajak kepada semue teman facebooker dan para pembaca untuk kembali mencintai produk seni budaya lokal kita demi keutuhan payung sosial dan tatanan hidup dalam bermasyarakat. ( 27/08/2013. M.H.) PROFIL : this Linkhttp: http://www.filmkalbar.wordpress.com/ / KREATIVITAS AND VIDEO FILM: This Link http://www.youtube.com/studiokayong . SMP ARSIP : This link http://smeentertaintment.multiply.com/www.klinikstudio.wordpress.com

Selasa, 03 Desember 2013

Kado dari Menkes, “Kondom Gratis” Buat Generasi Penerus

Kado dari Menkes, “Kondom Gratis” Buat Generasi Penerus


Oleh: Hasanan


kartun-tolak-pekan-kondom-nasional-305x320 warta kayong


“Kondom bukan barang terlarang seperti narkoba sehingga pembagian kondom tidak perlu dirisaukan dan pembagian rokok gratis di tempat-tempat umum lebih berbahaya ketimbang pembagian kondom.” Demkian penggalan kalimat Meteri Kesehatan RI Nafsiah Mbai kepada media masa baru-baru ini menaggapi tudingan ormas, ulama dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan pembagian kondom gratis pada acara Pekan Kondom Nasional (PKN) 1- 7 Desember 2013. Jadi, jangan beritakan Menkes bagi-bagi kondom, ya," kata Nafsiah Mboi kepada media, saat ditemui di jumpa pers Hari AIDS Sedunia di Jakarta, (29/11/2013). Menkes mengatakan, tahun lalu pihaknya memang ikut dalam program Pekan Kondom Nasional itu, tapi tahun ini tidak.


Sebagaimana diketahui, Komisi Penaggulangan Aids Nasional (KPAN) bersama dengan Produsen Kondom DKT Indonesia berencana menyelenggarakan Pekan Kondom Nasional (PKN) ke- 7 yang tahun ini akan dimulai satu hari sebelum Hari AIDS Sedunia (HAS) yang jatuh pada tanggal 1 Desember dan berlangsung selama satu minggu, yaitu dari tanggal 1 – 7 Desember yang akan digelar di 12 kota di Indonesia. Dalam acara tersebut akan ada aksi pembagian kondom secara cuma-cuma kepada masyarakat. Kendati Menkes menyatakan lembaganya tahun ini tidak ikut dalam kegiatan PKN tersebut, namun KPAN dan DKT menyelenggarakan kegiatan tersebut seijin meteri.


Sangat disayangkan, pembagian komdom tersebut justru dominan dilakukan kepada remaja yang terdiri dari kalangan pelajar dan mahasiswa, bukan dilokalisasi atau di markas-markas prostitusi – pedangang seks bebas sebagaimana yang dimaksud Menkes dan pihak penyelenggara PKN tersebut.


Pernyataan yang sangat menyayat, “Kondom bukan barang terlarang seperti narkoba sehingga pembagian kondom tidak perlu dirisaukan. Pembagian rokok gratis di tempat-tempat umum lebih berbahaya ketimbang pembagian kondom.” Benar apa yang disampaikan menteri bahwa kondom bukanlah barang terlarang. Tapi mengapa harus dibagikan kepada mahasiswa/pelajar, di kampus-kampus atau sekolah? Menpapa tidak pada tempat yang rawan seks beresiko, tempat hiburan malam atau di kalangan pengguna narkoba? Para pelajarkan atau sebagian mahasiswa rata-rata kan belum menikah?


Kita bisa saja sepakat dengan Menkes, BKKBN, BNN dan KPAN bahwa kondom dapat mencegah bahaya HIV/AIDS. Tapi tentu ini tidak akan menjamin dan bisa mencegah sindrom yang menyebabkan hati-hati yang cenderung melakukan tindakan konyol – melakukan seks bebas tersebut. Dan kondom tidak akan bisa mencegah orang untuk tidak melakukan kemaksiatan, justru malah akan semakin intens melakukannya karena merasa lebih aman/terlindungi. Secara tidak langsung kita telah memberikan rekomendasi/penganjuran kepada pelaku untuk tetap melakukannya, bukan mencegah tindakannya.


Dampak negatif lain dari pembagian kondom tersebut kepada remaja-remaja tentu akan menjadi penyumbang negatif terhadap pembentukan mentalitas anak bangsa. Asumsi mereka akan cenderung pada perbuatan seks yang belum waktunya bagi mereka melakukannya. Mereka bukan malah takut melakukan seks bebas karena dampak negatifnya, tapi malah semakin berani karena merasa aman dan merasa ada institusi yang mendampinginya. Wajar saja penyakit masyarakat (pekat) ini susah diberantasi.


Benar pendapat sebagian besar kita dan Menkes bahwa pergaulan bebas atau seks bebas itu akibat lemahnya keimanan seseorang, tetapi bukan berarti ini tidak bisa dicegahkan kan? Sebab sumber penyakitnya ada disini. Sekali lagi, kondom hanya bisa mencegah penyakitnya tapi tidak untuk sikap dan mentalitas seseorang. Orang akan takut melakukan kejahatan apapun namannya apa bila hukum tegak atas pelaku kejahatan tersebut. Tentu harus dimulai dari produk hukum yang sesuai, penegak hukum yang patuh hukum dan pembuat peraturan yang tidak melanggar peraturan yang dibuatnya.


Sebetulnya semua kejahatan bisa saja dicegah dengan kesungguhan. Teroris saja bisa dicegah, bisa ditangkap, bisa diekskusi mati dan bisa dibentuk institusi khusus yang menanganinya (Densus 88), kenapa pergaulan bebas dan prostitusi tidak bisa? Malah ada Pemerintah Daerah yang menyediakan tempat khusus untuk frostitusi dan memungut omzet dari tempat tesebut sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) pemerintahannya. Pencegahan yang dimaksud tentu memerlukan dukungan semua elemen yang ada, termasuk pembinaan, penyluhan dan penegakkan hukum yang benar-benar memberikan efek positif bagi pelaku kejahatan. Apa lagi Negara memiliki kekuasaan mutlak untuk mengatur rakyatnya.


Kembali kita mengenang ungkapan Menkes. Bagaimana bisa seorang Menkes mengatakan bahwa rokok itu lebih berbahaya dari pada kondom gratis bagi remaja? Justru menurut penulis, program kondom gratis buat remaja itu jauh lebih berbahaya ketimbang rokok gratis. Rokok sudah jelas tampak dampak negatifnya, tapi kondom gratis merupakan bahaya yang terselubung. Rokok jelas menganggu kesehatan, namun kondom gratis sangat menganggu dan merusak psikologis. Psikis yang telah rusak itu jauh lebih sulit penyebuhannya ketimbang menyembuhkan penyakit yang diakibatkan oleh rokok, sebab mindset (pola pikir) dan karakter seseorang telah terbentuk dari hal-hal seperti ini. Jadi kecenderungannya untuk melakukan kejahatan sangat tinggi sekali.


Semoga kita tidak sedang berprasangka buruk kepada Menkes Nafsiah Mbai yang hormati dan banggakan, terutama buat penulis pribadi. Kita berharap apa yang menteri lakukan adalah kebaikan dan kemaslahatan buat bangsa ini, bukan hal-hal negatif seperti yang kita sangka/duga kepada beliau.


Tentu tidak sepenuhnya kita melepaskan tanggung jawab pembinaan generasi ini pada pemerintah. Tanpa dukungan kita, dukungan orang tua dan masyarakat pemerintah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kewajiban kita sebagai orang tua harus lebih dalam proses pembinaan dan mendidik anak-anak kita agar berkepribadiaan baik, sedini mungkin. Karena dari kitalah generasi bangsa ini lahir dan tumbuh menjadi manusia yang bisa membawa peradaban atau penyumbang kehancuran.


Pergaulan bebas adalah sumber dari segala macam penyakit yang ada di masyarakat, termasuk HIV/AIDS. Sebisa mungkin kita cegah sumber penyakitnya. Yang pasti tidak harus dengan pembagian kondom gratis, namun melalaui pendekatan-pendekatan lain yang relevan, salah satunya pendekatan yang sesuai kentuan agama dan pendidikan etika, tentu harus menyesesuaikan dengan fase pertumbuhan psikologi anak tersebut.


Sekedar renungan buat kita bersama terutama buat penulis, ada petikan Hadist Nabi yang sangat relevan dengan topik yang sedang kita bahas: “Apabila zina dan riba telah nampak nyata di suatu negeri, maka mereka telah menghalalkan diri mereka untuk menerima adzab Allah,” (HR. Hakim)●