WK-Brand Logo
Tampilkan postingan dengan label ketupat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketupat. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Juli 2014

SEMARAK KETUPAT, PAWAI TAKBIR HARI KEMENANGAN DIGELAR

Bersihkan Sebagian Harta, Serukan Menabung Untuk Akhirat.

Setiap tahun Remaja Masjid Jami’ Babul Hasanah di Desa Rantau Panjang Kec. Simpang Hilir KKU mengelar Pawai Takbir. Idul Fitri (27/07/2014) malam kali ini tak luput dari kegiatan serupa, sebab ini menjadi agenda rutin kami remaja masjid, ungkap Wirliyadi salah satu pengurus Remas Babul Hasanah.

[caption id="attachment_2030" align="aligncenter" width="300"]Sepasang pria yang berhias layaknya Sang Habib Sepasang pria yang berhias layaknya Sang Habib[/caption]

Kegiatan ini dilakukan sejak 8 tahun yang lalu. Di Kayong Utara, Rantau Panjang termasuk perintis pertama kegiatan seperti ini. Untuk memeriahkan Kegiatan ini mobil dihiasi sedemikian rupa sehingga kelihatan seperti arak-arakan penganten pria menuju rumah mempelai wanita. Mobil hiasi dan diisi beduk, sound system dan orang-orang yang tak henti-hentinya melafazdkan asma-asma Allah yang diiringi pukulan beduk dan perlengkapan seni lainnya, masyarakat sepanjang perjalan sangat antusias menyaksikan Pawai Takbir kali ini, karena diatas mobil selain diisi berbagai peralatan perlengkapan takbir, dimobil tersebut juga ada sepasang pria yang berhias layaknya Sang Habib yang memakai serban serta berjenggot hitam & jenggot putih yang sangat panjang, masyarakat merasa terhibur dengan kehadiran kedua Remaja tersebut, layaknya seorang Habib mereka terus tersenyum & melambaikan tangannya kearah masyarakat yang berdiri dipingiran jalan. Hal ini merupakan pentas seni remaja Islam Rantau Panjang yang patut diacungi jempol karena kreativitas mereka.

[caption id="attachment_2027" align="aligncenter" width="300"]Arakan Menaiki Jembatan Melano Arakan Menaiki Jembatan Melano[/caption]

Werly sapaan akrab Werliyadi menjelaskan, Rute perjalanan Pawai Takbiran ini dimulai dari Pos Sat Lantas Rantau Panjang (jalan Provinsi) menuju Bundaran Bambu Runcing Tl. Melano kemudian finish di Kantor Camat Simpang Hilir. Sedangkan kendaraan yang di pergunakan yaitu mulai dari roda dua, roda empat (pick up) bahkan ada teman-teman yang ikhlas berjalan kaki mendatangi rumah-rumah demi menumbuhkan semangat masyarakat Islam untuk berinfaq khususnya hingga ke titik finish rute perjalanan yang telah ditentukan. Semua ini mereka lakukan dengan swadaya dan keikhlasan hati, dengan ucapan Tasdik, Tahmid dan Tahlil, mereka kumandangkan untuk menyampaikan rasa syukur atas kemenangan yang diraih selama Ramadhan.
Selain menyemarakan Hari Raya Islam, kegiatan ini ialah dalam rangka penggalangan dana (infaq) untuk pembangunan Masjid Babul Hasanah yang sedang dalam proses pembangunan, mengingat kondisi fisik bangunan masjid yang berdiri sejak tahun 1946-an tersebut sudah dalam kondisi memprihatinkan. Tentu perlu adanya kerjasama dan langkah-langkah positif dari Panitia Pembangunan, Remas dan kita semua, jelas Zamroni dan Muhammad H.R selaku bendaharawan Pembangunan Masjid Babul Hasanah.

[caption id="attachment_2031" align="aligncenter" width="300"]Kerangka Masjid Babul Hasanah dalam kondisi memprihatinkan Kerangka Masjid Babul Hasanah dalam kondisi memprihatinkan[/caption]

Selaku masyarakat patutnya kita harus mendukung langkah positif Remas dan Panitia Pembangunan tersebut, mengingat pembangunan Masjid Jami’ Babul Hasanah sangat membutuhkan dana pembangunan yang cukup besar, maka sangatlah dibutuhkan dukungan kita semua. Ada dua Momen kegiatan ini dilakukan dalam setahun, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha tentu ini bukan menjadi batas penentu kita dalam berpartisipasi (berinpaq) demi terwujudnya pembangunan yang kita cita-citakan bersama, sebab Masjid adalah simbol Agama kita umat Islam, Simbol kejayaan dan persatuan umat Islam. Karena itu tanggung jawab kita semua untuk mewujudkan impian tersebut. Jika ada kelebihan rezki, jangan tunggu Idul Fitri atau Idul Adha saja baru bersedekah/berinfaq, kesempatan itu selalu terbuka disetiap saat, sebab dengan berinfaq berarti kita telah berivestasi (menabung) untuk akhirat, dan membersihkan sebagian Harta kita, isya Allah. Bagi Rakyat Pembaca jika ingin menabung untuk Akhirat dan Ingin Membersihkan sebagian Harta anda, silahkan Bersihkanlah dan Tabunglah sebagian Harta anda Ke Rening Pembangunan Masjid Jami’ Babul Hasanah, Bank KALBAR : 7321043113 agar anda dijauhkan dari kemungkaran, Insyaa Allah Amiiiin. (Jelas Pak Haji Salim selaku Imam Masjid Jami’ Babul Hasanah).

REKENING MASJID JAMI BABUL HASANAH 1

Selain menghibur, kegiatan Pawai Takbir ini bernilai Ibadah dan bermanfaat buat umat Islam. Sebuah mobil dan puluhan sepada motor yang ikut dalam Pawai Takbir Idul Fitri tersebut benar-benar turut memeriahkan Hari Raya Kemenangan bagi umat Islam sedunia ini. Semangat perjuangan mereka telah teruji demi langkah mereka untuk meraih pahala. Mereka mungkin tidak mampu membantu pendanaan Pembangunan Masjid ini melalui Infaq materi (uang), tapi mereka memiliki solidaritas yang tinggi, dan sebagai relawan mereka telah ikut membantu dan berinfaq untuk mewujudkan cita-cita kita dalam pembangunan Masjid ini. Semangat Solidaritas mereka nyata, mulai dari waktu, tenaga, pikiran bahkan materi mereka berikan demi terwujudnya Pembangunan Masjid ini. Dan inilah pesan Idul Fitri sesungguhnya kemenangan akan terwujud. Niat yang tulus, Hati yang Ikhlas serta Rasa Kebersamaan Se Iman dan Se Agama yaitu ISLAM. ( Ir )

Minggu, 27 Juli 2014

“Ketupat Colet” Menu Khas Lebaran Melayu Kayong

ketupat colet

Oleh: Hasanan

Ketupat Colet, merupekan menu khas Lebaran ala Melayu. Sebuatan takzim orang Melayu Kayong khususnye. Menu ini saban taon dapat kite temui e’ di rumah-rumah warge Melayu, baek Lebaran Idol Fitri, maokpon Lebaran Idol Adha. Kadang menjadi tradisi pula’ pade acare syukoran/selamatan tertentu. Misalnye pindah rumah, tola’ bale dan laen-laen. Ade ga’ nang (yang) buat ketupat untok kepentingan bisnes. Misalnye untok buat lontong dan sate.

Secare nasional, ‘Ketupat’ telah lame membudaye, bahkan menjadi icon Lebaran. Baek dipakai pade ucapan selamat di kartu Lebaran, maokpon ucapan selamat di medie cetak dan elektronik. Selain itu, istilah ketupat digunakan ga’ dalam istilah kepolisian, yaitu ‘Operasi Ketupat’. Operasi menjelang Lebaran Idol Fitri dan Idol Adha (Hari Raya Korban).

Ndak hanye di Indonesia, umumnye di Asia Tenggare ni, ketupat bukanlah barang aseng gi’. Seperti misalnye di Malaysia, Brunai, Singepo (Singapura), Fhilipina, Thailand selatan dan laen-laen, teruteme nang beragame Islam. Di Indonesia, bukan cume suku Melayu ja’, tapi bermacam suke pon kadang menggunekan ketupat sebagai pelengkap tradisi atau digunekan untok berbagai kepentingan.

Diduge, ketupat aseli asal Indonesia. Ndak diketau e’ secare pasti siape penemunye. Jike melihat fakte kebudayaan Jawe sebagai pusat episentrum budaye, make ndak salah jike ketupat berasal dari tanah aik kite, Indonesia. Hasil kreasi aseli anak bangse, sehingga iye bise menyebar menjadi hidangan khas Asie Tenggare.

Berabad-abad sebelum Islam masuk nusantare, ketupat udah akrab dengan bangse ni, sebagai tradisi adat bangse kite ketike itu. Kemudian, melalu e’ Sunan Kalijaga, ketupat semakin dipopulerkan, sebagai sarane untok mensyiarkan ugame (agame/agama) Islam. Beliau memadukan antare budaye setempat dengan ajaran ugame Islam. Asilmilasi budaye dan keyakinan ni akhirnye mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi islami. Ketike ketupat menjadi makanan nang selalu ade di saat umat Islam merayakan Lebaran, yaitu sebagai momen nang tepat untok saling minta’ maaf dan mengaku e’ kesalahan.

Bermacam-macam suku atau bangse pon kadang laen-laen nyebot ketupat tu. orang Bali nyebotnye tipat, Melayu Banjar nyebotnye katupat, Betawi tupat, Cebu disebot puso, Filipina bugnoy, Jawe kupat, Kapampangan patupat dan Makassar katupa’. Bahase Melayu/Indonesia umumnye nyebot ketupat, Sunda kupat, Tausug disebot ta’mu, Tolitoli kasipat dan Melayu Minangkabau katupek. Kemudian bahase Sasak topat, Madure ketopak, Gorontalo atupato dan bahase Angkola katupat (Rahayu).

Anggapan Melayu, Lebaran tanpa ketupat seakan ndak meriah. Kerne ketupat merupekan menu utame di Hari Raye nang diagungkan umat Islam tersebot, khususnye etnis Melayu Kayong. Menu tersebot akan kite jumpe e’ saat ari pertame atau kedua’ lebaran. Setiap tamu nang bekunjong ke rumah warge, keluarge dan sanak saudare, make tuan rumah akan menyugohkan ketupat colet buat tamunye.

Seperti menyambut Idol Fitri 1435 H kali ni. Komunitas Melayu nang ade di Kayong Utara khususnye, telah mempersiapkan anyaman ketupat, minimal 3 hari sebelom Lebaran. Sedikitnye 100 butik ketupat saban rumah tanggak Melayu disediakan.

Istilah ‘ketupat colet’, yelah penyebutan hidangan ketupat dan laoknye ala Melayu Kayong. Ye bise dibilang kuliner gitulah. Istilah ini udah lamak digunekan di tanag Kayong. Laok utame ketupat biasanye masak lemak (santan) daging sapi atau ayam, atau rendang daging atau ayam. Kadang ga’ laoknye ikan pari’, tenggiri, teri, toman, ruan dan laennya bise jadi penambah ketupat.

Kepade setiap tatamu dan sanak saudare nang datang, tuan rumah akan menyuguhkan satu pinggan (piring besar) ketupat dan piring (piring kecil) masak lemak daging sapi/ayam. Bile tamu lebih dari satu orang, ketupat colet nang disajikan pon lebih dari satu idang (porsi).

Care makan ketupat colet, yelah sesuai dengan namanye. Sangat sederhane. Orang tinggal memutong ketupat nang siap saji tersebut dengan tangan, kemudian makannye dengan care mencoletkan/bececah dengan laok nang telah disediekan. Dan lazimnye makan ketupat colet emang menggunakan tangan langsong, ndak pakai sudu’ (sendok). Itu sebagai simbol kebersame an dan kesederhane an.

Suasane nikmat dan akrab antare kerabat, sahabat dan peduloran pon bena-bena terase. Dengan idangan ketupat colet, ngomong dengan keluarge dan sahabat pon seakan lanca (lancar) ja’. Bepinggan-pinggan kadang abes ketupat dan dan laoknye dalam tempat, kalo’ udah ayal tu. Bahkan mertue lalu pon bise ndak kenal. (Hehehe….)

Tau ndak saudare bagaimana teknis membuat dan memasak ketupat yang baek tu? Hal ini nang biase ndak dipaham e’ setiap orang Melayu saat ni. Apa gi’ bagi anak mude, nang kadang hanye tau jadi ja’. Orang Melayu nang ndak pandai buat ketupat, terutame anak dare, dianggap orang nang tak tau adat dan pemalas. Dan biasanye orang tersebot diolok e’, agar die termotivasi untok belaja.

Namon, saat ni udah banyak jase penjualan ketupat pula’, terutame di daerah kote. Ini tentu ade sisi positif dan negatifnye ga’. Positifnye tentu membuka’ peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat tu sendiri’. Negatifnye, orang akan manja’. Pelestarian adat budaye, secare berlahan akan ilang. Sebab, itu hanye dilakukan kalangan tue-tue ja’. nang mude jadi malas na’ belaja.

Kate mereke, “Untok ape ruyoh-uyoh belaja. Beli ja’ di pasa selesai am.” Ni am salah satu alasan orang nang malas na’ bebuat te’. Pade hal, dengan belaja mbuat ketupat, retinye kite udah berupaye melestarikan tradisi, adat atau budaye kite yang baek. Karne bangse nang besa’ adelah bangse nang menjunjong tinggi nialai-nilai budaye baeknye.

Sebenanye kalo’ maok belaja mbuat ketupat tu ndak perlu beyeye mah. Ndak makan waktu bejam-jam bah. Ndak perlu matikan asam garam ga’am dengan gurunye. Tapi mun yang bebal bah emang uyoh mang. Waktu sejam tu ndak cukop a’. Tapi kalo’ ade niat na’ belaja, pasti bise mah.

membuat ketupat sekeluarga

Umumnye, ketupat terbuat dari daon kelapa’ mude. Biasenye sebelom dianyam, daon kelapa’ dijemo sebenta lo’, supaye ndak kuyak saat dianyam/mbuatnye. Setelah itu daon siap dianyam. Bagi nang udah mahe (mahir/ahli), buat ketupat tu sebenta ja’. Ndak sampai bemenet-menet, udah jadi am. Bagi nang baro’ tau, emang agak lama’ mang. Ape nang ndak tau same sekali tu. Bakal anco am daon tu. (Haha….)

Kalo’ ketupat dah jadi, tinggal ngisi berasnye. Parteme-tame cuci beras lo’ sampai berseh. Kemudian ditoskan (dikeringkan). Setelah itu baro’ beras diisikan ke ketupat. Ngisi ketupat pon ade carenye. Kalo’ beras bena (beras biasa), ngisinye ndak boleh penoh. Paleng-paleng, sekita sepertige ja’ atau hamper penoh. Kalo’ kepenohan akan mentah, kalo’ kesiketan akan licak (lembek). Tapi kalo’ beras pulot (ketan), ngisinye harus penoh. Kalo’ ndak penoh akan licak.

Setelah itu baro’ dimasak selame lebeh kurang 3 jam, atau sampai bena-bena masak. Kalau udah masak, angket dan toskan sampai kereng, atau diangen-angenkan. Ketupat nang masak dan kerengnye bagos, dapat disimpan selame 2 ari. Atau bise ga’ dipanaskan kalau takot basi’.

Dalam istilah Melayu Kayong dikenal berbagai jenes/bentok ketupat. Misalnye ketupat pasa atau ketupat biase (berbentok segi empat), ketupat bawang merah, bawang puteh, ketupat jantong, ketupat bumbong, ketupat ketam, ketupat sapi, ketupat burong, ketupat serban, ketupat lepas (betinak/lelaki), ketupat kumbek, ketupat telok dan pulohan jenes laennye.

Kalo’ ketupat pasa, sapi, burong, ketam, bumbung dan ketupat laennye, lazim digunekan untok Lebaran. Kalo’ ketupat lepas, jantong, serban dan ketupat kumbek biasenye khas digunekan untok acare syukoran atau tola’ bale. Sedangkan ketupat telok biase digunekan untok nyimpan telok atau potongan pusat anak balita. Disebot telok karene bentuknye bulat seperti telur.

Perlu saudare ketau e’ ga’, untok 100 butik ketupat jenis pasa, bawang merah atau bawang puteh misalnye, diperlukan sekitar 3 kilo beras untuk ketupat biase. Sedangkian untok ketupat pulot, diperlukan 4 kila pulot untok 100 butik ketupat pasa, bawang merah atau bawang puteh.

Apepon ceritenye, mari am kite same-same menjage tradisi kite ni. Karne ni tradisi positif mah. Jangan sampai ndak ade gi’ generasi nang ndak tau buat ketupat. Ndak ade gi’ generasi yang ndak kenal dengan istilah ketupat colet tu. Karne, selain di Indonesia dan Asia Tenggare, di dunie laen ndak ade a’ nang namenye ketupat tu bah. Ape gi’ jadi tradisi Lebaran seperti di tempat kite nin.

Karne itu, ayo’ am kite pelihare e’ warisan budaye kite nang satu nin. Tentu dengan care salah satunye, yelah maok belaja mbuat ketupat, dan belaja care ngolahnye agar bise jadi ‘Ketupat Colet’ dalam istilah Melayu Kayong, nang siap disajikan.

Sabtu, 26 Juli 2014

Kesehatan Hewan Penentu Kualitas Daging

sapi potong seponti_wk

Sukadana – Di Indonesia khususnya, penyembelihan (pemotongan) hewan ternak menjelang Lebaran, telah menjadi tradisi umat Islam. Demikian juga dengan umut Muslim Kayong Utara. Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H, masyarakat Kayong Utara pun disibukan dengan penyediaan kebutuhan daging untuk menu khas Lebaran, sebagai lauk ketupat.

Diperkerikan, lebih dari 200 ekor sapi tahun ini terpotong. Sedikitnya 250 ekor sapi, akan terpotong untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat KKU, yang saban tahun meningkat. Data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) 2013 lalu menunjukan, 200 ekor sapi potong dari peternak yang ada di KKU, terjual. Ungkap Ramsiah, Pengawai Distanak KKU, saat dikonfirmasi WK via hand phone (26/7/2014).

Yang terpenting bukanlah kuantitas (jumlah) sapi yang dipotong, tapi kualitas kesehatannya. Ini penting. Agar tidak berefek negatif pada konsumen yang mengkonsumsinya. Sebab hewan yang berpenyakit berbahaya, dapat menularkan penyakitnya pada manusia. Ungkap Ramsiah, selaku Pengawas Kesehatan Hewan Potong 2014, Kecamatan Simpang Hilir.

Dikatakan Ramsiah, sebelum dipotong, layaknya hewan-hewan tersebut diperiksa kesehatannya terlebih dahulu. Seperti sapi misalnya. Harus ada pemeriksaan awal (ante mortem), yaitu pemeriksaan kondisi hewan saat masih hidup. Apakah hewan tersebut mengandung penyakit, seperti cacing atau tidak.

Pemerikasaan ante mortem adalah pemeriksaan kesehatan setiap ekor sapi, ternak atau unggas yang akan dipotong. Pemeriksaan ante mortem dilakukan dengan mengamati dan mencatat ternak sapi sebelum disembelih, yang meliputi jumlah ternak, jenis kelamin, keadaan umum, serta kelainan yang tampak.

Khusus sapi, hasil akhir pemeriksaan ini dapat dibagi tiga bagian, yaitu ternak yang dipotong secara reguler adalah ternak yang memenuhi syarat normal. Kemudian, ternak yang ditolak potong, yaitu ternak yang menderita suatu penyakit menular, masih produktif dan betina bunting. Selanjutnya, ternak yang menderita kelainan lokal seperti fraktur, abses, neoplasma dan ternak yang kondisinya meragukan, ulas Ramsiah.

Pemeriksaan selanjutnya post mortem, yaitu pemeriksaan karkas (alat dalam), seperti limpa, jantung dan hati sapi. Ini bertujuan untuk memastikan, apakah sapi tersebut mengandung penyakit atau tidak. Mungkin, pemeriksaan secara ante mortem tidak dapat dibukti, kerena sapi telah dipotong misalnya. Untuk membuktikannya, yaitu dengan post mortem.

Masih menurut Ramsiah. Post mortem yang terpenting adalah pemeriksaan limpa. Jika limpa berbentuk benjolan seperti bisul, atau bentuk limpa tumpul (tidak runcing), maka dipastikan sapi tersebut mengandung penyakit. Kemudian, jika hati sapi berlobang, maka sapi mengadung cacing. Tentu sapi tersebut tidak layak dikonsumsi.

Masalah yang sering kita hadapi, lajut Ramsiah, banyak warga yang tidak mau memeriksa sapi mereka sebelum dipotong. Diduga, ketakutan warga tersebut karena takut rugi, apabila telah dipotong sapinya dinyatakan mengandung penyakit dan tak layak dikonsumsi. Kerena itu, banyak yang enggan melaporkan pemotongan yang ingin mereka lakukan, sesal Ramsiah.

Selain itu, pentingnya pemeriksaan sebelum dipotong, yaitu berkenaan dengan jenis kelamin sapi. Dikhawatirkan adanya rencana pemotongan sapi betina produktif dan/atau sedang bunting. Jika itu terjadi, selain peternak itu rugi karena membunuh janin yang ada di perut sapi, juga melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Yang bersangkutan bisa disanksi. Kecuali sapi betina tersebut tidak produktif lagi.

Sesuai dengan UU No 18 /2009 tersebut, yang termuat dalam Pasal 18 ayat (2) dilarang keras memotong sapi betina yang sedang bunting atau produktif. Jika itu dilakukan maka dapat dikenakan sanksi berupa 3 hingga 9 bulan kurungan penjara, atau denda paling sedikit Rp 5 Juta dan paling banyak Rp 25 juta, jelas Ramsiah.

Kerana itu, yang dianjurkan dipotong adalah sapi jantan. Jika setiap orang memaksakan memotong sapi betina produktif (masih bisa bunting), maka sangat berpengaruh terhadap populasi (perkembangbiakan) sapi yang ada. Ini yang perlu kita sadari. Sebab itu, pemeriksaan (ante mortem) atau pemeriksaan sebelum dipotong itu penting, untuk memastikan apakah sapi tersebut betina produktif, sedang bunting atau tidak.

Diperlukan partisipasi seluruh masyarakat, tentang pentingnya mengaja sapi betina produktif agar tidak terpotong. Mengetahui kesehatan sapi dan daging sebelum kita potong dan konsumsi. Tentu dengan cara menginformasikan kepada Dinas, mantra atau petugas kehewanan. Agar kita terhidar dari penyakit menular. Sebab pemotongan yang kita lakukan tidak memenuhi syarat dan standar kesehatan, imbau Ramsiah. (Has)